Manajemen Kelas
Manajemen kelas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005, hal. 708) adalah “manajemen untuk mencapai tujuan pengajaran di kelas”. Agar kelas teratur, maka perlu dimanage atau perlunya manajemen kelas. Manajemen kelas (Padmono 2011, hal. 12) adalah “upaya yang dilakukan penanggung-jawab kegiatan belajar mengajar agar dicapai kondisi optimal sehingga belajar mengajar berjalan seperti yang diharapkan. Pengelolaan tersebut meliputi penyelenggaraan, pengurusan, dan ketatalaksanaan dalam menyelenggarakan kelasnya”.
Manajemen sebagai suatu sistem mengandung komponen-komponen masukan, proses dan keluaran yang masing-masing tidak dapat dipisahkan dari keterlibatan faktor
manusia, bahkan keberhasilan manajemen itu sendiri sangat bergantung pada sumber daya manusia pelaksananya.
Manajemen kelas ialah aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat untuk kepentingan belajar kelas itu agar hasil belajar yang optimal dapat dicapai. Sumber-sumber pendidikan yang dimaksud ialah orang-orang yang membantu para siswa belajar seperti instruktur, dan sebagainya, materi pelajaran, media belajar, lingkungan belajar, sarana atau fasilitas belajar, dan informasi yang bertalian dengan kelas itu. Sumber-sumber inilah yang dicari dan dipadukan untuk kepentingan kelas itu (Pidarta 1990, hal. 5). Jadi, dengan demikian manajemen kelas menunjukkan kepada kegiatan-kegiatan yang menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar. Hal tersebut akan terjadi bila kita lebih dahulu menciptakan kebaikan agar untuk mendapatkan kebaikan dari apa yang telah kita lakukan. Sebab, tidak menutup kemungkinan apa kita lakukan dengan terbaik akan berdampak baik terhadap apa yang akan kita lakukan.
Tujuan, Aspek, Fungsi, dan Problem Manajemen Kelas
Tujuan Manajemen Kelas
Tujuan manajemen kelas pada umumnya bertujuan “untuk meningkatkan efektivitas dan efesiensi dalam pencapaian tujuan pembelajaran” (Tim Guru 2009, hal. 111). Selain itu, untuk menciptakan lingkungan kelas yang aman dan tenang (Jones, 2012, hal. 60). Dengan demikian tujuan manajemen kelas pada hakekatnya menciptakan kondisi yang baik bagi terciptanya pembelajaran yang efektif.
Jadi, dapat dipahami bahwa tujuan manajemen kelas adalah upaya untuk mendayagunakan potensi kelas. Berhubung kelas mempunyai peranan dan fungsi tertentu dalam menunjang keberhasilan proses edukatif, maka hal itu dapat memberikan dorongan dan rangsanan terhadap anak didik untuk belajar. Dalam hal ini, guru harus mampu mengelola situasi dan suasana kelas dengan sebaik-baiknya.
Prinsip-prinsip dan Faktor-faktor dalam Manajemen Kelas
Secara umum faktor yang mempengaruhi manajemen kelas dibagi menjadi dua golongan yaitu, faktor intern dan faktor ekstern siswa.” Faktor intern siswa berhubungan dengan problem emosi, pikiran, dan perilaku. Kepribadian siswa denga ciri-ciri khasnya masing-masing menyebabkan siswa berbeda dari siswa lainnya sacara individual. Perbedaan sacara individual ini dapat dilihat dari segi aspek yaitu perbedaan biologis, intelektual, dan psikologis.
Faktor ekstern siswa terkait dengan problem suasana lingkungan belajar, penempatan siswa, pengelompokan siswa, tempat duduk siswa, jumlah siswa, dan sebagainya. Problem jumlah siswa di kelas akan mewarnai dinamika kelas. Semakin banyak jumlah siswa di kelas, misalnya dua puluh orang ke atas akan cenderung lebih mudah terjadi konflik. Sebaliknya semakin sedikit jumlah siswa di kelas cenderung lebih kecil terjadi konflik.
Prinsip-prinsip pengelolaan kelas yang menurut pendapat Djamarah adalah sebagai berikut:
-hangat dan antusias
-tantangan
-bervariasi
-keluwesan
-penekanan pada hal yang positif
-penanaman disiplin diri
Pendekatan dan Pelaksanaan dalam Manajemen Kelas
Manajemen kelas bukanlah problem yang berdiri sendiri, tetapi terkait dengan berbagai faktor. Problema anak didik adalah faktor utama yang dilakukan guru tidak lain adalah untuk meningkatkan kegairahan siswa baik secara berkelompok maupun secara individual.
Keharmonisan hubungan guru dan anak didik, tingginya kerjasama diantara siswa tersimpul dalam bentuk interaksi. Lahirnya interaksi yang optimal bergantung dari pendekatan yang guru lakukan dalam rangka pengelolaan kelas (Rusydie 2011, hal. 48-55). Berbagai pendekatan tersebut adalah seperti dalam uraian berikut:
-pendekatan kekuasaan
-pendekatan ancaman
-pendekatan kebebasan
-pendekatan resep
-pendekatan pengajaran
-pendekatan perubahan tingkah laku
-pendekatan sosio emosional
-pendekatan kerja kelompok
-pendekatan pluralistrik
Adapun guru yang mampu me-manage atau mengelola kelas dengan baik akan mudah mencapai tujuan pengajaran yang telah dirumuskan, sebagaimana dikemukakan Subrata (1997, hal. 50):
a. Pengelolaan kelas yang baik mempertinggi perkembangan mental dan sosial murid-murid.
b. Pengelolaan kelas yang baik memberi kebebasan intelektual dan fisik dalam karakter yang ditentukan.
c. Pengelolaan kelas yang baik memungkinkan pencapaian tujuan instruksional.
d. Pengelolaan kelas yang baik mengizinkan kepada murid untuk ikut
berpartisipasi atas pengelolaan kelasnya.
e. Pengelolaan kelas yang baik mengizinkan kepada murid untuk mengembangkan
kecakapan sendiri dan tidak tergantung pada orang lain.
f. Pengelolaan kelas yang baik membuat suasana yang hangat terhadap hubungan
antara guru dan murid.
g. Pengelolaan kelas yang baik menghasilkan sikap murid yang positif terhadap
kelasnya.
Hal ini sesuai dengan berberapa teori, antara lain: Teori Kounin yang memberikan sumber ide yang kaya untuk bagaimana guru dapat mendekati masalah manajemen kelas. Ini berguna bagi para guru pemula. Teori ini fokus pada penelitian manajemen kelompok.
Teori penelitian tentang pengajaraan efektif. Teori ini di pengaruhi oleh teori behavioral dan orientasi ekologis. Penelitian ini akan mengidentifikasi tentang perilaku guru efektif, yakni para guru yang secara konsisten mampu menghasilkan kertibatan siswa yang tinggi dalam berbagai kegiatan akademis maupun sosial. Selain itu didukung teori Child-Centered yang melihat bahwa sumber utama masalah adalah kurikulum yang tidak relevan dan penekanan yang berlebihan pada ketenangan atau keheningan dan uniformitas. Teori ini lebih condong ke arah child-centered dari pada subject-centered (online: http//google/teori+manajemen+kelas/ 23 Juni 2013).
Berdasarkan hal tersebut, maka perlu adanya hubungan yang harmonis antara guru dan murid dalam me-manage kelas, hal tersebut akan memudahkan bagi guru untuk mengenal secara tepat berbagai masalah manajemen kelas baik yang sifatnya individi maupun kolektifitas.
Pengaruh Manajemen Kelas dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran di Kelas
Pembelajaran yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh pembaharuan kurikulum, fasilitas yang tersedia, kepribadian guru yang simpatik, pembelajaran yang penuh kesan, wawasan pengetahuan guru yang luas tentang semua bidang, melainkan juga guru harus menguasai kiat memanejemeni kelas.
Manajemen kelas dapat mempengaruhi tingkat kualitas pembelajaran di kelas karena manajemen kelas benar-benar akan mengelola susasana kelas menjadi sebaik mungkin agar siswa menjadi nyaman dan senang selama mengikuti proses belajar mengajar termasuk kebersihan kelasnya, apalagi dalam agama Islam bersih merupakan bagian dari iman.
Bila kelas nyaman dan bersih, kualitas belajar siswa seperti pencapaian hasil yang optimal dan kompetensi dasar yang diharapkan dapat tercapai dengan baik dan memuaskan. Selain itu, manajemen kelas juga akan menciptakan dan mempertahankan suasana kelas agar kegiatan mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien.
Di samping itu juga, dengan manajemen kelas tingkat daya serap materi yang telah diajarkan guru akan lebih membekas dalam ingatan siswa karena adanya penguatan yang diberikan guru selama proses belajar mengajar berlangsung.
Manajemen kelas dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas karena situasi dan kondisi kelas memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
Kondisi belajar yang optimal dicapai jika guru mampu mengatur siswa dan sarana pengajaran serta mengendalikanya dalam situasi yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pelajaran. Akan tetapi apabila terdapat kekurang serasian antara tugas, dan sarana atau alat atau terputusnya keinginan dengan keinginan yang lain, antara kebutuhan dan pemenuhanya maka akan terjadi gangguan terhadap proses pembelajaran. Baik gangguan sifat sementara maupun sifat yang serius atau terus menerus, karena itu perlunya guru mengetahui bagaimana cara memanage kelas yang benar.
Sumber : http://repository.radenfatah.ac.id/5626/3/revisi%20bab%202.pdf
Komentar
Posting Komentar